4 Hobi Suami yang Sebaiknya Diwaspadai

Hobi adalah sesuatu hal yang wajar, seseorang butuh hobi untuk melepaskan penat dari segala rutinitas yang dilewati sehari-hari seperti sekolah atau bekerja. Meski begitu, ada beberapa orang yang menjalankan hobinya dengan tidak sehat hingga melupakan tugas dan kewajiban yang menjadi prioritas utama mereka.

Hal ini bisa terjadi pada para suami yang setiap harinya harus pergi bekerja dari pagi hingga petang. Mereka akan membutuhkan hobi sebagai pelarian dari kepenatan akan pekerjaan. Namun di sisi lain, para istri terkadang merasa jengkel ketika suami mulai terlalu asik dengan hobinya tersebut.

Lantas, apa saja hobi para suami yang perlu diwaspadai oleh para istri? Simak artikel beriktu ini.

  1. Game

Boys will always be boys, tidak peduli berapa umurnya, lelaki akan selalu tertarik pada game. Mulai dari permainan sederhana seperti solitaire hingga permainan-permainan yang menghabiskan banyak waktu dan uang seperti online game.

suami hobi main game

Sebetulnya, hobi ini tidak berbahaya, malah untuk beberapa kasus, hobi seperti ini bisa membuat para suami lebih sehat karena terjauh dari stress. Namun, hobi ini akan menjadi masalah ketika para suami mulai lupa diri, bahkan sampai melupakan tanggung jawabnya untuk memenuhi hasratnya bermain game.

Jika ini dibiarkan, suami akan lupa dengan tugasnya untuk membantu pekerjaan istri di rumah, kurang memperhatikan anak, dan mulai menjauh dari keluarga.

  1. Main Kartu

Beberapa suami menghabiskan waktu luangnya bersama kawan-kawan untuk bermain kartu. Permainan sederhana sejauh dimainkan hanya untuk bersenang-senang. Lagi-lagi hobi yang aman ini akan menjadi berbahaya ketika dilakukan secara berlebihan.

suami hobi main kartu

Terkadang para suami mulai lupa diri dan menggunakan uangnya untuk taruhan di permainan kartu ini. Mulai dari jumlah yang kecil hingga akhirnya ia menghabiskan seluruh penghasilannya untuk bermain judi kartu.

Waspada jika suami sudah mulai menunjukan gelagat kurang sehat dengan hobinya. Kamu sebagai istri bisa mulai mengontrol kebiasaan suami misalnya dengan membiarkan ia bermain judi secara online saja seperti yang ditawarkan oleh situs mahabet.org. Dengan begitu suami tetap bisa melakukan hobinya namun dengan cara yang lebih terkontrol.

  1. Belanja

Yang satu ini biasanya dimiliki oleh para istri tapi tidak berarti suami bisa terlepas dari hobi ini. Belanja mudah membuat orang lupa diri, membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan dengan uang yang tidak seharusnya dibelanjakan.

suami hobi belanja

Berbeda dengan kaum hawa yang biasanya menghabiskan uang belanjanya untuk pakaian atau make-up, para lelaki biasanya menghabiskan uangnya untuk hobi dan koleksi. Jika suami hobi bersepeda, mungkin ia akan menghabiskan uangnya untuk membeli aksesoris sepeda, atau mungkin suami kamu suka dengan koleksi action figure, kalau tidak dikontrol, suami akan menghabiskan jutaan rupiah untuk benda-benda pajangan seperti ini.

  1. Nonton Olahraga

Apa salahnya dengan olahraga? Ya, hobi olahraga tidak salah dan bahkan bagus untuk kebugaran tubuh. Namun, yang dimaksud dengan hobi olahraga di sini adalah hobi olahraga yang hanya menonton saja. Banyak sekali suami yang punya hobi menonton bola, bahkan rela untuk tidak tidur demi menonton tim kesayangan.

suami hobi nonton olahraga bola

Untuk sekali-kali mungkin tidak masalah, tapi kalau sudah setiap hari sampai lupa istri, anak dan pekerjaan, ini bisa berbahaya. Tidak hanya mengganggu perannya sebagai kepala keluarga tapi juga akan mengganggu kesehatan tubuhnya.

 

Intinya, hobi bukanlah sesuatu yang harus dihindari tetapi harus lebih diatur dalam pelaksanaannya. Lebih baik lagi jika hobi suami bisa dilakukan bersama, jadi tidak akan mengganggu quality time dengan keluarga.

A – Z tentang Baby Blues

Entah seberapa besar Anda menginginkan kehadiran seorang bayi dan seberapa besar rasa sayang Anda terhadap bayi Anda, ketika bayi Anda sudah benar-benar hadir dalam kehidupan Anda, Anda pasti akan merasakan stress. Hal ini amat sangat wajar terjadi. Semua ibu, khususnya ibu baru, pasti mengalami stress ini yang tentunya muncul dalam intensitas yang berbeda-beda.

Mengapa Stress Pasca Melahirkan Muncul?

Ada istilah khusus yang merujuk pada rasa stress akibat kehadiran si bayi yaitu “baby blues”. Akan tetapi, istilah ini lebih digunakan pada tingkat stress pasca melahirkan dengan intensitas yang sangat tinggi. Rasa stress ini biasanya muncul karena banyak faktor seperti kurangnya tidur akibat mengurus bayi yang suka terbangun di malam hari, tanggung jawab yang baru, kurangnya waktu untuk menyenangkan diri sendiri dan lain sebagainya.

penyebab baby blues

Inilah yang membuat seorang ibu baru pasti merasakan gejolak emosi yang bisa jadi cukup ekstrim. Bisa dikatakan, stress ini merupakan salah satu bentuk reaksi penyesuaian diri seorang ibu dan oleh karenanya, setelah si ibu sudah bisa menyesuaikan diri, gejala baby blues ini akan memudar seiring waktu. Akan tetapi, ada juga kasus di mana si ibu tetap menghadapi baby blues meskipun sudah berlalu beberapa bulan sejak si bayi lahir. Selain beberapa faktor yang disebutkan di atas, ada beberapa faktor lain yang perlu Anda tahu.

  • Perubahan Hormon

Tidak bisa dipungkiri, perubahan hormon akan langsung terjadi sesaat setelah proses persalinan berakhir. Hal ini terjadi karena tingkat estrogen dan juga progesterone mengalami penurunan yang drastis. Tidak hanya itu saja, tiroid juga mengalami penurunan yang mengakibat si ibu mengalami rasa mudah lelah dan bisa berujung ke depresi. Perubahan hormon ini jugalah yang memicu tingkat emosi yang berubah-ubah dan bisa memicu baby blues.

  • Perubahan Bentuk Fisik

Bagi sebagian orang, perubahan bentuk fisik karena persalinan bisa memicu depresi. Belum lagi rasa sakit yang mungkin masih terasa setelah melahirkan.

  • Tingkat Stress

Sudah disinggung sebelumnya, umumnya semua ibu mendambakan kebahagian setelah persalinan karena kehadiran si buah hati. Namun, kebanyakan tidak sadar akan konsekuensi yang menyusul seperti peningkatan tanggung jawab dan banyaknya waktu “sendiri” yang akan hilang.

baby blues - mengapa

Gejala Baby Blues

Pada umumnya, gejala baby blues tidak perlu diwaspadai asalkan masih bisa diatasi. Akan tetapi jika baby blues terjadi dalam waktu yang lama dan gejalanya terasa sangat mengganggu, ada baiknya Anda segera mengambil langkah serius. Apa saja gejalanya? Ada bermacam-macam, seperti halusinasi, paranoid, rasa cemas yang berlebihan, merasa ling lung, perubahan mood yang sangat cepat merupakan beberapa contohnya. Inilah juga alasan kenapa ibu yang mengalami gejala baby blues yang parah bisa tiba-tiba sangat kejam bahkan dengan bayinya sendiri. Inilah yang harus ditangani segera.

Penanganan Baby Blues

Jika memang dirasa perlu, Anda bisa berkunjung ke psikolog dan menjalani sesi terapi. Akan tetapi, pada banyak kasus, beberapa metode bisa dilakukan untuk mengurangi gejala baby blues. Yang pertama adalah mencoba untuk membentuk ikatan yang lebih kuat dengan si bayi. Bagaimanapun Anda adalah ibunya dan bertanggung jawab atasnya.

Ikatan Anda lama kelamaan akan menghilangkan gejala baby blues dan akan menggantikan gejalanya dengan rasa sayang pada si bayi. Yang kedua adalah meminta bantuan dari ibu-ibu baru yang lainnya. Anda bisa saling menguatkan satu sama lain dengan mendengar cerita masing-masing. Dan yang ketiga, yang tidak kalah pentingnya adalah luangkan waktu dengan suami Anda. Suami merupakan partner Anda yang juga bertanggung jawab untuk merawat bayi. Berkomunikasilah dengannya dan jika memang memungkinkan, cobalah bagi tugas untuk merawat bayi.

9 Mitos dan Fakta Mengenai Menopause

Suatu kondisi yang sering dikhawatirkan perempuan ialah masa menopause. Masa ini merupakan masa critical bagi seorang wanita dengan berbagai mitos yang berkembang. Sebelumnya kita perlu memahami terlebih dahulu apa itu menopause dan bagaimana gejalanya sehingga kita bisa membedakan mitos dan fakta.

Menopause merupakan berhentinya siklus menstruasi secara fisiologis yang terjadi pada tingkatan usia tertentu atau ketika fungsi ovarium berhenti. Ovarium atau indung telur adalah salah satu dari sepasang kelenjar reproduksi pada wanita.

Ovarium menghasilkan hormon kewanitaan seperti estrogen dan progesteron juga sel telur. Setiap satu bulan sekali atau periode, sel telur dilepaskan dari salah satu ovarium  kemudian sel telur berpindah dari ovarium ke uterus melalui tuba fallopi. Proses ini berulang terus jika tidak ada faktor yang menghalanginya seperti sakit atau menggunakan obat-obatan. Menopause terjadi ketika ovarium tidak lagi melepaskan sel telur setiap bulannya. Kondisi ini bisa diartikan juga bahwa tidak adanya lagi periode menstruasi selama 12 bulan tiap tahunnya.

mitos fakta menopause

Semua hormon wanita yang mengatur perkembangan karakteristik tubuh wanita seperti bentuk tubuh, payudara, dan rambut berasal dari ovarium. Hormon-hormon ini juga mengatur kehamilan dan menstruasi. Sedangkan estrogen berfungsi untuk melindungi tulang. Oleh karena itu, seorang perempuan bisa mengalami pengeroposan tulang (osteoporosis) di kemudian hari ketika ovarium tidak lagi menghasilkan  hormon estrogen yang cukup.

Seseorang mengalami menopause di usia yang berbeda-beda tetapi kebanyakan perempuan mengalaminya di usia 51 tahun. Namun, ada sebagian perempuan yang mengalami menopause dini (premature menopause) yang disebabkan operasi, seperti histerektomi, atau kerusakan pada indung telur dan pengobatan dari kemoterapi. Faktor lain yang dapat mempengaruhi cepat tidaknya masa menopause ialah down syndrome, turner syndrome, defisiensi enzim, penyakit Addison, dan hipotiroidisme.

Menopause membuat fisik, psikologis, hormonal hingga seksual seorang wanita mengalami perubahan drastis. Gejala yang sering dirasakan berupa sakit kepala, depresi, jantung berdetak kencang, vagina mulai terasa kering dan kurang elastis, serta sakit pada otot dan persendian. Tetapi, tak setiap perempuan mengalami hal seperti ini.

Menopause bukanlah suatu penyakit sehingga tidak perlu ditakuti karena ini adalah kondisi yang normal dan wajar dialami setiap perempuan. Mitos yang berkembang sering tidak didukung oleh penjelasan yang benar sehingga menjadi mimpi buruk untuk para perempuan.

Yuk, kita pahami dengan baik fakta yang sesungguhnya menurut kesehatan:

#1 Mitos: Berat badan bertambah.

Fakta: Saat fase menopause, tentu tidak bisa dihindari. Menurunnya hormon esterogen menyebabkan perubahan metabolisme lemak. Dimana kolesterol baik menurun dan kolesterol jahat meningkat yang pada  akhirnya menimbulkan perut buncit. Hal ini bisa diatasi dengan tetap menjaga pola makan yang benar dan rajin berolahraga.

#2 Mitos: Menopause merusak kulit

Fakta: Ini tidak benar karena kerusakan kulit bukan disebabkan oleh menopause melainkan karena faktor genetika, merokok, dan terkena paparan sinar matahari. Jika Anda ingin mencegahnya menjauhlah dari perokok, jangan merokok, dan selalu gunakan sunblock ketika beraktivitas di bawah sinar matahari.

#3 Mitos: Terapi hormon alami adalah solusi terbaik

Fakta: Jangan pernah percaya dengan pernyataan ini sebab kelompok obat bioidentik tidak masuk dalam badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat atau Food and Drug Administrasion. Selain itu, tidak ada hormon yang dapat menggantikan estrogen yang hilang.

#4 Mitos: Hasrat Seksual Menurun

Fakta: Hormon estrogen yang menurun memang benar menyebabkan vagina mengering dan saat berhubungan vagina terasa sakit. Ini tak menjadi alasan gairah bercinta menurun. Solusinya Anda bisa menggunakan pelumas sehingga tidak terasa sakit dan gairah seksual dapat tersalurkan.

#5 Mitos: Anda akan sering mengompol

Fakta: Jangan panik! Peristiwa ini wajar terjadi karena jaringan kandung kemih dan uretra semakin menipis sehingga lebih menonjol dan sulit menahan pipis. Hal ini bisa diatasi dengan berlatih senam kegel secara rutin.

hot flushes saat menopause - mitos

#6 Mitos: Setiap perempuan mengalami hot flushes

Fakta: Hot flushes adalah perasaan panas yang sewaktu-waktu dapat menyerang tubuh bagian wajah, leher, dan dada. Hal ini berlangsung selama dua sampai tiga puluh menit setiap satu kali kejadian.  Selain itu, hot flushes juga dapat menimbulkan gejala keringat berlebih.

#7 Mitos: Penyakit menular seksual minim terjadi

Fakta: HIV atau penyakit menular seksual lainnya masih berisiko menular pada seseorang yang telah memasuki masa menopause sekalipun. Sehingga ketika mereka tidak lagi memanfaatkan kondom sebagai pelindung maka mereka telah membuka jalan penyebaran penyakit seksual menular. Maka tidak heran banyak orang terkena virus HIV justru di rentang usia 50 tahun ke atas.

#8 Mitos: Merasa tertekan saat menopause

Fakta: Sebuah penelitian membuktikan bahwa wanita ketika memasuki usia menopause tidak mengalami perubahan ketertarikan atau minat. Sebaliknya, usia 45 hingga 55 tahun merupakan masa terbaik dalam hidup mereka. Bila Anda merasa masalah begitu menumpuk di pundak Anda dan memengaruhi kemampuan Anda dalam bekerja hingga lebih dari dua minggu sebaiknya segera temui dokter untuk mencari tahu penyebabnya!

#9 Mitos: Menopause menyedihkan bagi semua perempuan

Fakta: Ada berbagai macam hal yang mewarnai bagaimana masa menopause memengaruhi kehidupan perempuan. Sebagian besar perempuan justru merasa bahagia untuk bercinta karena mereka tidak lagi memusingkan dengan pikiran takut hamil di usia yang beresiko. Sehingga menopause tidak menjadi halangan bagi mereka untuk melakukan aktivitasnya.